Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Jujurlah Padaku

Bagai mana kutau
Bagaimana dapat aku mengerti
Perasaan pada dirimu
Yang selalu kau pendam dalam hatimu
Bagaimana ku tahu
Bagaimana dapat aku mengerti
Arti dari tatapan matamu
Yang menyimpan sebuah makna dalam dirimu
Bagaimana aku mampu mengerti
Jika kaupun tak pernah
Inginkan aku mengerti
Bagaimana aku mampu mengerti
Jika kaupun tak pernah
Berkata jujur pada diri
Dirimu dan diriku
Sadarkah kau
K ebisuanmu menyakiti hatiku
Pernahkah kau berfikir
Tentang bagaiman perasaanku
Menunggumu, dan terus menunggu
Aku menanti sebuah kalimat
Dari bibir lembutmu
Tuk pastikan aku takkan menyesal

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Seperti Angin

Kini cinta bagiku seperti angin
Selalu datang dan pergi
Tanpa kenal permisi
Kadang datang dengan kelembutan
Namun tak jarang pula
Dtang dengan membawa kegelisahaan
Apakah aku harus percaya dengan cinta ?
Apakah aku harus yakin dengan keberadaan cinta ?
Walaupun hatiku terus berontak
Memintaku untuk kembali
Tak percaya dengan cinta
Mengapa selalu saja ada
Pengkhianatan dalam cinta
Begitu mudah untuk berpaling darinya
Aku sungguh tak mengerti
Ketika cinta datang
Mencoba menemani kesunyian
Selalu saja ia pergi
Tak pernah singgah menetap lama di hati

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Aku Bukan SIAPA – SIAPA

Aku sadar aku bukan apa – apa
Aku sadar aku bukan siapa – siapa
Aku umpama tanah berlumpur
Tak berharga, tak bernilai, dan kotor
Sungguh aku adalah sesuatu
Yang tak mungkin dapat bersatu
Dengan sesosok bulan di langit
Yang indah dan mempesona
Bukan hanya jarak yang menjauhkan kita
Namun semuanya, segalanya
Seolah tak ada hal yang mampu menyatukan kita
Perbedaan melingkari kita walau kita punya cinta
Namun cintakah yang akan membuat kita bersama
Sebesar apapun cinta yang ku punya
Takkan bisa menepis kenyataan yang ada
Takkan bisa menembus dinding penghalang diantara kita
Walau ku bukan ksatria
Walau ku hanya gadis biasa
Walau ku bukan pemberani
Yang mampu memperjuangkan cinta
Namun aku adalah gadis
Yang akan menjaga cintaku
Selamanya…

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Sang Fajar

Sang fajar mulai menampakkan diri
Dan sang surya bersiap untuk terbit
Terdengar suara merdu alunan syair
Menentramkan dan menyejukkan kalbu
Nampak titik – titik embun
Tetinggal di dedaunan pohon
Angin sejukpunmulai merasuki jiwa
Menghanyutkan dan membawa diri ini
Menatap dunia yang indah
Saat pagi datang dengan kehangatan
Menggantikan suasana fajar
Yang syahdu dan menentramkan
Terasa mantab hati tuk menata masa depan
Langkah kaki pun siap tuk melangkah
Asa dan impian pun telah tersusun
Rasa ikhlas menjalani kehidupan mulai aku rasakan
Tersadar kini diri dari kemunafikkan
Walau kini tak lagi ada bulan dalam malam
Walau kini tak lagi ada bintang tuk temani jiwa dan hati yang kosong
Namun angin malam tetap setia mendampingi
Walu ia tak pernah dihiraukan kehadirannya
Namun diri ini akan menganggapnya teman
Karena itulah yang kupunya sekarang

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Aku ingin Bebas

Aku ingin sekali bebas
Lepas dari perasaan ini
Yang tiap kali melandaku
Yang tiap kali menyiksa batinku
Yang tiap kali menggelisahan jiwaku
Hati yang berkecamuk jadi satu
Entah itu marah, suka, benci atau cinta
Bercampu aduk hingga tak berbentuk
Mengapa pedih yang kurasa
Ketika ku dikaruniai anugrah terbesar dalam hidupku
Yaitu Cinta…..
Cintakah Sungguh dalam hatiku ?
Namun mengapa betapa menyakitkan untuk diriku
Aku tak tau arti ini semua
Sungguh di dalam hatiku
Hanya ada dia
Dia yang selalu bersarang dalam benakku
Ingin rasanya ku tak kenal cinta
Cinta pada dirinya
Karena cintanya bukan untuk diriku
Dan mungkintakan pernah untuku

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Takut Kehilanganmu

Andai saja semua ini tak pernah kualami
Andai saja semua ini tak pernah terjadi
Tak mungkin ku diliputi rasa
Rasa gelisah, gundah, dan takut
Kalu saja kau tau apa yang terjadi
Kalu saja kau tau apa yang kurasakan
Setelah kau hadir membawa sebuah harapan
Walau kusadar hanya harapan kosong
Aku jatuh hati padamu
Mencintaimu sepenuh hatiku
Aku takut…
Sangat takut kehilanganmu
Sungguh racun cintamu
Meracuni seluruh jiwaku
Benar – benar kutak ingin
Kau pergi dariku
Menjauhiku walau hanya sekejap

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Mampukah Aku

Saat mata ini menatap
Sebuah wajah yang indah
Saat mata ini menatap
Kedua bola mata yang indah
Hati ini bergetar, Tak sanggup lama memandang
Pada seorang makhluk yang sempurna keindahannya
Tak dapat kulukiskan betapa indahnya dirimu
Kau bagai berlian
Yang tak ternilai harganya
Kau bagai permata
Yang menyinari setiap keindahannya
Dan kau bagai sang surya
Yang memberi kehangatan
Di setiap dinginnya dunia
Bukan hanya keindahan luarmu
Yang mampu buatku terpesona
Tapi kebaikan dan keindahan hatimu
Serta kelembutan hatimu
Membuatku hanyut dalam duniamu
Namun mampukah aku
Mendampingi dan setia mengikuti setiap jejak Langkah hidupmu
Bukannya aku tak mau
Namun aku tak mampu
Karena aku bukan siapa – siapa Dibanding dirimu

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Aku tulus

Ku mencintaimu bukan karena keindahan yang melekat pada dirimu
Ku mencintaimu Bukan karena kepunyaan yang kau milki
Ku mencintaimu bukan karena kelebihan yang ada dalam dirimu
Aku tulus…..
Tulus mencintaimu apa adanya
Menerimamu dalam hati sepiku
Entah apa yang ku suka dari dirimu
Aku tak mengerti alasannya
Yang pasti ini tulus
Bukan hanya ucapan bibir belaka
Entah sejak kapan
Aku mencintaimu, menyayangimu
Entah sejak kapan
Cinta ini tumbuh dalam hatiku
Namun yang pasti
Sejak kau selalu hadir
Dalam setiap mimpi dan angan
Menggetarkan jiwa
Kerap kali namamu ku dengar
Membuat ku sulit bernafas
Ku tak berdaya olehmu

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Itulah AKU

Walau aku tak pernah melihat musim gugur
Tapi aku merasakan….
Bagiku kini aku bagaikan dedaunan
Yang ikut berguguran di musim ini
Musim gugur yang belum pernah
Aku jamah keberadaannya
Mengerikan memang
Menjadi dedaunan kering
Yang gugur dan jatuh ke tanah
Kemudian menghilang tersapu oleh angin
Begitulah aku
Orang yang malang
Di bumi, dunia yang aku pijakkan
Setelah aku menjadi daun hijau
Yang rimbun dan indah
Disepanjang musim semi
Kini aku berubah
Menjadi sesuatu yang sedikitpun tak memiliki nilai
Jatuh kemudian terhempas
Setelah manisnya kurasakan
Anugrah cinta dalam hatiku
Kini aku hancur karena rapuh
Tak mampu menahan perih
Karena tertoreh luka dalam hati
Entah apa kau mengerti
Entah apa kau merasakan
Perasaanku terluka karenamu

Oleh: Khoirur Rijal | Juli 18, 2008

Musnah

Ingin ku musnahkan
Ingin ku hancurkan
Dan angin kulenyapkan
Perasaan ini dalam hatiku
Namun semakin ingin
Ku lepas dari belenggu ini
Ia semakin mengikatku
Erat dan sangat kencang
Menyesakkan dadaku
Apa yang harus kulakukan
Ketika cinta telah menjalar dalam diriku
Meracuni otak dan pikiranku
Serta menggelisahkan hatiku
Apa yang harus ku lakukan
Ketika hati tak mampu lagi
Membendung perasaan ini
Menutupinya dari dirimu
Jika boleh ku pinta
Jika boleh ku mohon
Aku tak inginkan ini semua terjadi
Hadir menyiksa diriku
Namun tak bisa ku elak
Mencintaimu pun
Adalah sebuah anugrah
Terindah dalam hidupku

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.